"A GOOD WORD IS BETTER THAN SILENCE AND SILENCE IS BETTER THAN USELESS TALK"

About Me

My photo
Seremban, Malaysia
A life I live is a story, what's done is done. Where it goes from here is totally up to me. I write my own ending.

Friday, 26 November 2010

Pesanan Ibu 0001 : Celaan Membawa Semangat

Oleh kerana hari ini adalah hari Jumaat, penghulu segala hari, mari saya share-kan di sini serba sedikit tentang perkara-perkara yang serba sedikit religious dan berkait rapat dengan kehidupan kita.

Ia juga sebagai suatu peringatan bagi diri saya, juga pada diri Jasmin di masa hadapan.

Diharap dapat baca dengan hati yang terbuka. Bacaan ini bukanlah menggalakkan kita semua menjadi judgmental tetapi harapnya bacaan ini dapat "put things into perspective" dan buat kita menilai dan memahami kewajipan sebagaimana yang dituntut agama, inshaAllah.

Oleh: Ustaz Zahazan Mohamed

Menata Hati Menghadapi Celaan

Setiap manusia tidak dapat lari daripada celaan dan cemuhan orang lain. Siapa pun kita, di mana pun kita berada, selalu sahaja terdapat orang yang akan mencela bahkan mencemuh kita. Malah Allah dan rasul-Nya pun tidak terlepas dari lidah keji manusia-manusia seperti ini. Seorang penyair Arab berkata: “Manusia menuduh Allah punya anak, mereka juga berkata: Rasul seorang tukang sihir. Tidak selamat Allah dan rasul-Nya daripada lidah manusia, apatah lagi saya?”

Kerana celaan suatu kepastian, maka kita mesti pandai menata hati. Jangan biarkan ucapan negatif orang lain itu mengeruhkan hidup kita, menguruskan tubuh kita dan menahan kita daripada aktiviti yang bermanfaat untuk masa depan kita.

Kita mesti pandai memanfaatkan energi positif yang terdapat di dalam celaan untuk membakar semangat menuju kejayaan. Setiap kali mendengar celaan, pandanglah ia sebagai obat, semakin pahit rasanya semakin baik untuk kesihatan kita.

Marah dan dua pilihan
Saya tidak tahu dengan anda, akan tetapi setiap kali mendengar celaan, apalagi jika berlaku di hadapan orang ramai, hati saya terasa sangat sakit. Telinga terasa terbakar, muka merah padam, dan emosi terasa hendak meletup. Malu terasa bercampur dengan kemarahan.

Jika anda merasakan hal yang sama, itu pertanda anda manusia normal. Sebagai manusia, celaan sangat menyakitkan hati dan membakar kemarahan. Hanya orang bodoh sahaja yang tidak marah ketika orang lain menyentuh kehormatan dan meruah dirinya. Imam al-Syafii berkata, “Barang siapa yang dibuat supaya marah namun tidak marah, maka ia adalah keldai.” Keldai adalah simbol untuk kebodohan yang sangat parah.

Pada saat penuh emosi ini, kita dihadapkan dua pilihan yang siap untuk diambil. Apa yang kita pilih biasanya ditentukan oleh karakteristik jiwa kita.

Pilihan pertama adalah merubah kemarahan itu menjadi dendam, lalu menyimpannya di dalam hati dan menunggu saat yang tepat untuk diaktualkan. Ia menanti dengan penuh waspada masa keemasan untuk membalas sakit hatinya dengan berbagai perbuatan yang dapat merosakkan orang lain, bahkan dirinya sendiri. Sikap ini menjadi pilihan ni orang yang berjiwa kotor dan hina. Celaan dan makian yang ia dengar bukan sahaja merosak hatinya, malah juga meruak masa depannya.

Pilihan kedua adalah menyimpan kemarahan itu di dalam hati lalu merubahnya menjadi pembakar api semangat untuk memperbaiki diri. Celaan memang menyakitkan, namun ia menyedarkan kita kepada kekurangan diri yang mesti diperbaiki. Tidak ada yang lebih menyakitkan hatinya daripada membiarkan kekurangan tersebut tetap berada di dalam dirinya sehingga mengundang berbagai celaan lain sepanjang hidupnya.


Celaan sebuah ubat, pujian sebuah racun
Imam al-Ghazali di dalam Ihya Ulumiddin berkata, “Sering kali manfaat yang kita dapatkan daripada celaan orang-orang yang memusuhi kita lebih banyak daripada manfaat yang kita dapatkan dari teman-teman yang selalu memuji kita.”

Ya, pujian jauh lebih merbahaya daripada celaan. Ia memang manis, namun mengandungi racun yang dapat merosak hati manusia. Semakin terbiasa seseorang mendengar pujian, semakin hatinya tertutup daripada kebenaran. Pada saat itu, ia tidak akan pernah tersedar daripada kekurangan dirinya apalagi tergerak untuk merubah dan memperbaikinya. Tanda seseorang sangat hina di mata Allah, Allah membiarkannya tenggelam dalam pujian.

Sebaliknya, celaan memang pahit namun ia berisi ubat yang akan merubah hidup kita menjadi lebih sempurna. Syaratnya kita mesti pandai merubah celaan itu menjadi pembakar semangat seperti yang dilakukan tokoh-tokoh berjiwa besar. Jika anda memiliki jiwa sebesar mereka, anda pasti melakukan apa yang mereka lakukan. Wallahu a’lam.


p.s. 
Fudhail bin ‘Iyadh (w. 187 H) berkata, “Seorang mukmin menutupi kesalahan seseorang lalu menasihati. Tetapi seorang pembuat dosa mengisytiharkan lalu mencelanya.” Imam Al-Syafii berkata, “Barang siapa yang mengkoreksimu dengan sembunyi-sembunyi, maka ia benar-benar menasihatimu. Dan barang siapa yang menasihatimu di depan umum, maka sebenarnya ia sedang menghinamu....”

No comments:

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails